Saturday, October 30, 2010

penyesuaian diri antara pekerjaan dan keluarga pada dewasa awal


BAB I

PENDAHULUAN

Erickson (dalam Monks, Knoers & Haditono, 2001) mengatakan bahwa seseorang yang digolongkan dalam usia dewasa awal berada dalam tahap hubungan hangat, dekat dan komunikatif dengan atau tidak melibatkan kontak seksual. Bila gagal dalam bentuk keintiman maka ia akan mengalami apa yang disebut isolasi (merasa tersisihkan dari orang lain, kesepian, menyalahkan diri karena berbeda dengan orang lain).

Hurlock (1990) mengatakan bahwa dewasa awal dimulai pada umur 18 tahun sampai kira-kira 40 tahun, saat terjadinya perubahan-perubahan fisik dan psikologi yang menyertai berkurangnya kemampuan reproduktif.

Secara umum, mereka yang tergolong dewasa muda (young ) ialah mereka yang berusia 20-40 tahun. Menurut seorang ahli psikologi perkembangan, Santrock (1999), orang dewasa muda termasuk masa transisi, baik transisi secara fisik (physically trantition) transisi secara intelektual (cognitive trantition), serta transisi peran sosial (social role trantition).

Perkembangan sosial masa dewasa awal adalah puncak dari perkembangan sosial masa dewasa. Masa dewasa awal adalah masa beralihnya pandangan egosentris menjadi sikap yang empati. Pada masa ini, penentuan relasi sangat memegang peranan penting. Menurut Havighurst (dalam Monks, Knoers & Haditono, 2001) tugas perkembangan dewasa awal adalah menikah atau membangun suatu keluarga, mengelola rumah tangga, mendidik atau mengasuh anak, memikul tangung jawab sebagai warga negara, membuat hubungan dengan suatu kelompok sosial tertentu, dan melakukan suatu pekerjaan. Dewasa awal merupakan masa permulaan dimana seseorang mulai menjalin hubungan secara intim dengan lawan jenisnya. Hurlock (1993) dalam hal ini telah mengemukakan beberapa karakteristik dewasa awal dan pada salah satu intinya dikatakan bahwa dewasa awal merupakan suatu masa penyesuaian diri dengan cara hidup baru dan memanfaatkan kebebasan yang diperolehnya.

Dari segi fisik, masa dewasa awal adalah masa dari puncak perkembangan fisik. Perkembangan fisik sesudah masa ini akan mengalami degradasi sedikit-demi sedikit, mengikuti umur seseorang menjadi lebih tua. Segi emosional, pada masa dewasa awal adalah masa dimana motivasi untuk meraih sesuatu sangat besar yang didukung oleh kekuatan fisik yang prima. Sehingga, ada yang mengatakan bahwa masa remaja dan masa dewasa awal adalah masa dimana lebih mengutamakan kekuatan fisik daripada kekuatan rasio dalam menyelesaikan suatu masalah.

Ketika orang dewasa dini sudah memasuki dunia pekerjaan, biasanya orang dewasa cenderung merasa tertekan oleh tuntutan pekerjaan yang mereka jalani. Mereka biasanya kurang setia atau memiliki loyalitas terhadap perusahaan yang rendah dan cenderung mencari pekerjaan lain yang dianggap lebih memuaskan dan lebih dapat menjamin atas kelangsungan hidupnya.

Sehubungan dengan penjelasan dewasa awal diatas dan data yang penyusun peroleh dari materi buku tentang masalah pada dewasa awal khususnya dalam penyesuaian diri pada pekerjaan dan keluarga, telah mendorong penyusun untuk mengambil judul untuk tugas makalah Perkembangan Peserta Didik tentang Penyesuaian Diri antara Pekerjaan dan Keluarga pada Dewasa Awal


BAB II

PEMBAHASAN DEWASA AWAL

2.1 PENGERTIAN DEWASA AWAL

Istilah adould berasal dari kata kerja latin , seperti juga istilah adolescene –adolescere yang berarti “ tumbuh menjadi kedewasaan “.Akan tetapi , kata adoult berasal dari kata adult yang berasal dari bentuk lampau partisipel dari kata kerja adultus yang berarti “telah tumbuh manjadi kekuatan dan ukuran yang sempurna “ atau “telah menjadi dewasa “, oleh karena itu ,menurut Hurlock (1990) orang dewasa adalah individu yang telah menyelesaikan pertumbuhannya dan siap menerima kedudukan dalam masyarakat bersama orang dewasa lainnya.

Dewasa awal adalah masa peralihan dari masa remaja. Masa remaja yang ditandai dengan pencarian identitas diri, pada masa dewasa awal, identitas diri ini didapatkan sedikit demi sedikit sesuai dengan umurnya.

Dewasa awal adalah masa peralihan dari ketergantungan ke masa mandiri, baik dari segi ekonomi, kebebasan menentukan diri sendiri, dan pandangan mengenai masa depan sudah lebih realistis.

2.2 CIRI-CIRI PERKEMBANGAN DEWASA AWAL

a. Usia reproduktif (Reproductive Age)

Masa ini ditandai dengan membentuk rumah tangga.Tetapi masa ini bisa ditunda dengan beberapa alasan. Ada beberapa orang dewasa belum membentuk keluarga sampai mereka menyelesaikan dan memulai karir mereka dalam suatu lapangan tertentu.

b. Usia memantapkan letak kedudukan (Setting down age)

Dengan pemantapan kedudukan (settle down), seseorang berkembang pola hidupnya secara individual. Ini adalah masa dimana seseorang mengatur hidup dan bertanggungjawab dengan kehidupannya. Pria mulai membentuk bidang pekerjaan yang akan ditangani sebagai karirnya, sedangkan wanita muda diharapkan mulai menerima tanggungjawab sebagai ibu dan pengurus rumah tangga.

c. Usia Banyak Masalah (Problem age)

Masa ini adalah masa yang penuh dengan masalah. Jika seseorang tidak siap memasuki tahap ini, dia akan kesulitan dalam menyelesaikan tahap perkembangannya. Persoalan yang dihadapi seperti persoalan pekerjaan/jabatan, persoalan teman hidup maupun persoalan keuangan, semuanya memerlukan penyesuaian di dalamnya.

d. Usia tegang dalam hal emosi (emostional tension)

Banyak orang dewasa muda mengalami kegagalan emosi yang berhubungan dengan persoalan-persoalan yang dialaminya seperti persoalan jabatan, perkawinan, keuangan dan sebagainya. Ketegangan emosional seringkali dinampakkan dalam ketakutan-ketakutan atau kekhawatiran-kekhawatiran. Ketakutan atau kekhawatiran yang timbul ini pada umumnya bergantung pada ketercapainya penyesuaian terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi pada suatu saat tertentu, atau sejauh mana sukses atau kegagalan yang dialami.

e. Masa keterasingan sosial

Dengan berakhirnya pendidikan formal dan terjunnya seseorang ke dalam pola kehidupan orang dewasa, yaitu karir, perkawinan dan rumah tangga, hubungan dengan teman-teman kelompok sebaya semakin menjadi renggang. Sebagai akibatnya, untuk pertama kali sejak bayi semua orang muda, bahkan yang populerpun, akan mengalami keterpencilan sosial atau yang disebut krisis keterasingan (Erikson:34).

f. Masa komitmen

Mengenai komitmen, Bardwick (dalam Hurlock:250) mengatakan: “Nampak tidak mungkin orang mengadakan komitmen untuk selama-lamanya. Hal ini akan menjadi suatu tanggungjawab yang terlalu berat untuk dipikul. Namun banyak komitmen yang mempunyai sifat demikian: Jika anda menjadi orangtua menjadi orang tua untuk selamanya; jika anda menjadi dokter gigi, dapat dipastikan bahwa pekerjaan anda akan terkait dengan mulut orang untuk selamanya; jika anda mencapai gelar doctor, karena ada prestasi baik disekolah sewaktu anda masih muda, besar kemungkinan anda sampai akhir hidup anda akan berkarier sebagai guru besar”.

g. Masa Ketergantungan

Masa dewasa awal ini adalah masa dimana ketergantungan pada masa dewasa biasanya berlanjut. Ketergantungan ini mungkin pada orangtua, lembaga pendidikan yang memberikan beasiswa sebagian atau sepenuh atau pada pemerintah karena mereka memperoleh pinjaman untuk membiayai pendidikan mereka.

h. Masa perubahan nilai

Beberapa alasan terjadinya perubahan nilai pada orang dewasa adalah karena ingin diterima pada kelompok orang dewasa, kelompok-kelompok sosial dan ekonomi orang dewasa.

i. Masa Kreatif

Bentuk kreativitas yang akan terlihat sesudah orang dewasa akan tergantung pada minat dan kemampuan individual, kesempatan untuk mewujudkan keinginan dan kegiatan-kegiatan yang memberikan kepuasan sebesar-besarnya. Ada yang menyalurkan kreativitasnya ini melalui hobi, ada yang menyalurkannya melalui pekerjaan yang memungkinkan ekspresi kreativitas.


2.3 MASALAH PERKEMBANGAN PADA DEWASA AWAL

Dengan bertambahnya usia, semakin bertambah pula masalah-masalah yang menghampiri. Dewasa awal adalah masa transisi, dari remaja yang huru-hara, ke masa yang menuntut tanggung jawab. Tidak bisa dipungkiri bahwa banyak orang dewasa awal mengalami masalah-masalah dalam perkembangannya. Masalah-masalah itu antara lain:

a. Penentuan identitas diri ideal vs kekaburan identitas

b. Kemandirian vs tidak mandiri

c. Sukses meniti jenjang pendidikan dan karir vs gagal menempuh jenjang pendidikan dan karir.

d. Menikah vs tidak menikah (lambat menikah)

e. Hubungan sosial yang sehat vs menarik diri

Penghambat pada masa dewasa awal dalam penguasaan tugas-tugas, diantaranya sebagai berikut:

· Latihan yang tidak berkesinambungan (discontinuities); Berhubungan erat dengan pengalaman-pengalaman belajar dan latihan masa lalu.

· Perlindungan yang berlebihan (over protectiveness); Bersangkutan dengan pola asuh orangtua yang pernah dialami dalam masa kanak-kanak.

· Perpanjangan pengaruh-pengaruh peer-group (prolongation of peer-group influences); Disini akan terlihat pengaruh kelompok-kelompok khusus bagi perkembangan dewasa awal.

· Inspirasi-inspirasi yang tidak realistis (unrealistic aspiration); Kesukaran-kesukaran dewasa awal, dapat ditimbulkan oleh konsep-konsep yang tidak realistis dalam benak pada dewasa awal (yang baru meninggalkan masa remaja) tentang apa yang diharapkan dengan apa yang dapat dicapai.


BAB III

PENYESUAIAN PEKERJAAN DEWASA AWAL

3.1 TAHAP-TAHAP PENYESUAIAN PEKERJAAN PADA DEWASA AWAL

Dalam memasuki dunia kerja, seseorang yang memasuki fase usia dewasa awal harus melakukan tahap-tahap penyesuaian pekerjaan, antara lain:

1. Pilihan Pekerjaan


Penyesuaian pertama adalah memilih bidang yang cocok dengan bakat, minat dan faktor psikologis lainnya supaya ketika bekerja kesehatan mental dan fisiknya dapat dikelola dengan baik.

Banyak kasus dalam memilih bidang kerja yang tidak cocok dengan bakat dan minat tetapi dipilih karena besarnya pengaruh sosial yang ada, ini justru menimbulkan ketidakpuasan terhadap hasil karyanya, tidak merasa mencintai tugasnya dan akhirnya prestasi kerja sangat menurun.

Penyesuaian peranan seks merupakan dasar bagi penyesuaian pekerjaan. Contohnya, seorang laki-laki tidak dapat puas dengan pekerjaan yang bersifat “maskulin” yang dipilihnya karena tekanan orangtua atau sosial bila ia sebenarnya berminat pada pekerjaan yang bersifat “feminim”.

Beberapa orang telah menentukan pilihannya jauh-jauh hari sebelum mereka bekerja, sehingga jauh-jauh hari juga mereka melatih diri. Sebaliknya, banyak orang


dewasa muda bingung tentang apa yang akan mereka kerjakan dalam bidangnya setelah selesai dari pendidikan SLTA, bahkan yang tamat dari perguruan tinggi.

2. Stabilitas Pilihan Pekerjaan

Penyesuaian kedua adalah dalam menentukan pilihan jurusan harus dilakukan dengan mantap.

Seberapa jauh tingkat kemantapan pemilihan jurusan bagi seseorang bergantung pada tiga faktor, yaitu pengalaman kerja, daya tarik pribadi terhadap pekerjaan, dan nilai yang terkandung pada pekerjaan yang dipilih.

Makin dewasa seseorang, biasanya ia makin menambah nilai yang mendukung kemantapannya terhadap suatu pekerjaan tersebut, daripada orang yang mengerjakan pekerjaan yang lebih menarik atau tawaran gaji yang lebih tinggi.

3. Penyesuaian Diri dengan Pekerjaan

Bentuk penyesuaian ketiga yang perlu dilakukan adalah penyesuaian diri terhadap jenis pekerjaan yang telah dipilihnya.

Tak dapat dibantah lagi, bahwa faktor yang paling mempengaruhi proses penyesuaian diri seseorang dengan pekerjaannya adalah sikap pekerja itu sendiri. Havighurst, dalam studinya tentang sikap pekerja terhadap pekerjaannya menyimpulkan bahwa ia dapat dikelompokkan menjadi dua kategori umum, yaitu:

1) Sikap kerja yang menopang-masyarakat, pekerja yang bersikap menopang masyarakat dalam dirinya kurang atau tidak berminat akan kerjanya dan hanya memperoleh sedikit kepusan kerja. Orang yang seperti ini sering kali memandang pekerjaannya sebagai beban yang berat dan tidak menyenangkan dan memandang hari depan hanya agar cepat menjalani masa pensiun.

2) Sikap kerja yang melibatkan ego, para pekerja yang dalam bekerja melibatkan ego, biasanya memperoleh kepuasan pribadi yang lebih besar. Bagi beberapa orang, bekerja merupakan dasar harga diri dan kebanggaan. Karena bekerja dianggap sebagai suatu yang penting, dan mereka ketakutan apabila suatu saat ia dipaksa untuk pensiun.


3.2 PENILAIAN TERHADAP PENYESUAIAN PEKERJAAN

Sejauh mana keberhasilan seseorang melakukan penyesuaian diri dalam pekerjaan dapat dinilai dari:

1. Prestasi Kerja.

Kriteria pertama terhadap penyesuaian pekerjaan seseorang adalah tingkat keberhasilan yang dicapai dalam kerja. Bagi banyak dewasa muda mempunyai pekerjaan yang aman, lebih berarti daripada meniti karier ke jenjang yang lebih tinggi.

Dalam penilaian proses penyesuaian, tercapainya harapan seseorang dan diperolehnya rasa puas atas hasil kerjanya merupakan kriteria yang penting. (Freda Leinwand dari Monkmeyer).

Rintangan yang paling serius dan paling umum untuk mencapai apa yang dapat dilakukan adalah ketakutan akan sukses. Contohnya, apabila seseorang memperoleh pekerjaan melalui usaha maksimal, mereka mungkin merasa tidak mampu untuk melaksanakan tugas tersebut dengan penuh keberhasilan. Dalam kondisi seperti ini, dia sadar tentang rendahnya tingkat pencapaian prestasi kerja, atau ia akan menuduh orang lain apabila ia tidak dapat bekerja dengan baik.


2. Perubahan Pekerjaan dengan Sukarela.

Kriteria kedua dalam proses penyesuaian bidang keahlian seseorang adalah jumlah perubahan yang dilakukan seseorang terhadap kejuruannya atau pekerjaannya. Jumlah ini dapat digunakan sebagai indikator kegagalan atau keberhasilan seseorang dalam menyesuaikan dirinya dengan jurusan dan bidang yang ditekuni selama ini. Mengganti bidang kerja dan menghabiskan waktu untuk melatih karier baru juga merupakan bukti yang menunjukkan bahwa proses penyesuaian mereka sangat jelek.

Sering terjadi perubahan pekerjaan yang dilakukan oleh para wanita dengan senang hati. Seorang istri yang bekerja, berhasil atau tidak dalam menyesuaikan diri dengan pekerjaannya, merasa perlu pindah pekerjaan karena ternyata suaminya pindah tugas atau pindah kerja ke lain tempat yang masyarakatnya berbeda.

3. Kepuasan.

Kriteria ketiga dalam penyesuaian bidang kerja adalah tingkat kepuasan yang diperoleh dari pekerjaan.

Pada awal usia duapuluhan, sebagian besar orang sudah merasa senang kalau memperoleh pekerjaan, walaupun pekerjaan tersebut tidak seluruhnya menyenangkan dan disukainya, sebab pekerjaan ini telah memberinya kebebasan yang diinginkan sehingga memungkinkannya untuk menikah.

Rasa tidak puas biasanya mulai terjadi selama pertengahan usia duapuluhan sampai menjelang usia tigapuluhan, terutama ketika orang muda tidak dapat menanjak secepat yang mereka harapkan, setelah masa ini biasanya rasa puas mereka meningkat sebagai hasil dari prestasi besar yang dicapai dalam imbalan keuangan yang semakin besar. Rasa puas diperoleh dari prestasi kerjanya. Dan yang lebih penting lagi adalah uang untuk hidup dengan gaya hidup yang mereka inginkan.


3 BEBERAPA KONDISI YANG MEMPENGARUHI KEPUASAN KERJA

1. Kepuasan yang sesuai dengan kebutuhan dan minat,

Pekerjaan yang sesuai dengan kebutuhan dan minat pekerja lebih memuaskan daripada tidak memenuhi kebutuhan dan minat.

2. Stres karena kerja,

Tanggungjawab terlalu banyak, kerja yang terlalu berat beban, atau perlunya membuat keputusan yang mempengaruhi hidup orang lain cenderung menimbulkan stres.

3. Pekerjaan yang menarik dan tidak menarik,

Makin menarik tugas-tugas yang ada dalam suatu pekerjaan, semakin besar rasa puas yang diperoleh pekerja. Sebaliknya, pekerjaan yang tidak menarik dan membosankan menimbulkan ketidakpuasan.

4. Perilaku orang penting,

Kepuasan pekerja meningkat apabila mereka tahu bahwa keluarganya merasa bangga dengan pekerjaannya dan puas dengan gaji yang mereka terima.



BAB IV

PENUTUP

Menurut Robert J. Havighurs (1953) bahwa seseorang dalam usia dewasa awal atau pertengahan 30 tahun telah dapat memecahkan persoalan-persoalan serta dapat meredakan ketegangan emosinya, sehingga seseorang dapat mencapai emosi yang stabil.

Dewasa awal adalah masa kematangan fisik dan psikologis. Menurut Anderson (dalam Mappiare : 17) terdapat 7 ciri kematangan psikologi, ringkasnya sebagai berikut:

a. Berorientasi pada tugas, bukan pada diri atau ego; minat orang matang berorientasi pada tugas-tugas yang dikerjakannya,dan tidak condong pada perasaan-perasaan diri sendri atau untuk kepentingan pribadi.

b. Tujuan-tujuan yang jelas dan kebiasaan-kebiasaan kerja yang efesien; seseorang yang matang melihat tujuan-tujuan yang ingin dicapainya secara jelas dan tujuan-tujuan itu dapat didefenisikannya secara cermat dan tahu mana pantas dan tidak serta bekerja secara terbimbing menuju arahnya.

c. Mengendalikan perasaan pribadi; seseorang yang matang dapat menyetir perasaan-perasaan sendiri dan tidak dikuasai oleh perasaan-perasaannya dalam mengerjakan sesuatu atau berhadapan dengan orang lain. Dia tidak mementingkan dirinya sendiri, tetapi mempertimbangkan pula perasaan-perasaan orang lain.

d. Keobjektifan; orang matang memiliki sikap objektif yaitu berusaha mencapai keputusan dalam keadaan yang bersesuaian dengan kenyataan.

e. Menerima kritik dan saran; orang matang memiliki kemauan yang realistis, paham bahwa dirinya tidak selalu benar, sehingga terbuka terhadap kritik-kritik dan saran-saran orang lain demi peningkatan dirinya.

f. Pertanggungjawaban terhadap usaha-usaha pribadi; orang yang matang mau memberi kesempatan pada orang lain membantu usahan-usahanya untuk mencapai tujuan. Secara realistis diakuinya bahwa beberapa hal tentang usahanya tidak selalu dapat dinilainya secara sungguh-sunguh, sehingga untuk itu dia bantuan orang lain, tetapi tetap dia brtanggungjawab secara pribadi terhadap usaha-usahanya.

g. Penyesuaian yang realistis terhadap situasi-situasi baru; orang matang memiliki cirri fleksibel dan dapat menempatkan diri dengan kenyataan-kenyataan yang dihadapinya dengan situasi-situasi baru.

Jadi, problematika yang harus dihadapi oleh orang dewasa awal sangatlah banyak dan beragam. Di mana tidak semuanya terjadi pada mereka, masing-masing pasti mempunyai masalah yang berbeda-beda dan kejadiannya pun bervariasi, biasanya tergantung dari tempat dia tinggal, gaya dan pola hidup mereka, serta pengaruh yang kuat disekitar mereka.

Masa dewasa adalah masa yang sangat panjang (20 – 40 tahun), dimana sumber potensi dan kemampuan bertumpu pada usia ini. Masa ini adalah peralihan dari masa remaja yang masih dalam ketergantungan menuju masa dewasa, yang menuntut kemandirian dan diujung fase ini adalah fase dewasa akhir, dimana kemampuan sedikit demi sedikit akan berkurang. Sehingga masa dewasa awal adalah masa yang paling penting dalam hidup seseorang dalam masa penitian karir/pekerjaan/sumber penghasilan yang tetap.

.


REFERENSI

Hurlock,E.B.1993. Psikologi Perkembangan: Suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan (edisi kelima). Jakarta: Erlangga.

Monks,F.J., Knoers,A.M.P & Hadinoto S.R. 2001. Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Santrock.2002. Life-Span Development (Perkembangan Masa Hidup). Jilid 2. Jakarta: Erlangga.

Mappiare, Andi. 1989. Melangkah Menuju Kedewasaan. Surabaya: Usaha Nasional.

http://www.psikologimania.co.cc/2010/02/psikologi-perkembangan-dewasa-awal.html

http://bahaden.tripod.com/

2 comments:

  1. postingannya sangat membantu...kebetulan sy punya tugas dgn materi diatas....boleh sy jdkan referensi...?

    ReplyDelete
    Replies
    1. monggooo silakan neng :)
      *telatbgtyasaya

      Delete